• An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
 
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
   

Penyediaan progesteron dari bahan aktif solasodin tanaman Solanum khasianum sebagai penyerentak berahi ternak domba dan kambing

Dibaca: 4812 kali

Tanaman Solanum khasianum (terong liar) yang dikenal di Indonesia adalah hasil introduksi dari daerah Assam, India pada tahun 1977 dan merupakan salah satu jenis tanaman yang dipergunakan sebagai bahan baku untuk obat-obatan corticosteroid yakni kelompok hormon steroid yang diproduksi oleh adrenal cortex, seperti hormon-hormon sex dan obat kontrasepsi oral

Untuk menghasilkan progesteron dari buah S. khasianum diperlukan suatu proses yang panjang. Hasil ekstraksi dari 5000 gram buah S. khasianum segar diperoleh gliko-alkaloida sebanyak 639 gram bila buah diekstrak dengan pelarut ethanol 70% dan 57,25 gram dengan pelarut air. Dari sintesis gliko-alkaloida diperoleh solasodin kasar sebanyak 13,23 gram dan 12,15 gram dengan kandungan solasodin murni tidak berbeda nyata (P>0,05) antar perlakuan akan tetapi hasil yang didapat dengan pelarut ethanol lebih tinggi (86,41%) daripada pelarut air yaitu sebesar 84,98 %.

Hasil sintesa solasodin menjadi 16-dehydropregnenolone acetate dengan cara menambahkan beberapa zat kimia dan merefluknya agar terbentuk endapan, maka diperoleh sebanyak 8,18 gram dari pelarut ethanol dan 7,48 gram pelarut air. Hasil sintesa lanjutan dari 16-dehydropregnenolone acetate diperoleh progesteron sebanyak 5,96 gram dari pelarut ethanol dan 5,24 gram pelarut air.

Progesteron yang diperoleh kemudian diujicobakan untuk mengetahui efektivitas dari hormon penyerentak berahi buatan ini pada 30 ekor ternak kambing betina yang dibagi atas tiga kelompok perlakuan: (1) P0 = Kontrol (spons produk Import), (2) P1 = spons yang diberi 45 mg progesteron hasil ekstraksi dan (3) P2 = spons yang diberi 35 mg progesteron hasil ekstraksi. Spons yang sudah berisi hormon progesteron kemudian dimasukkan kedalam vagina, dengan lama pemasangan 17 hari. Untuk onset berahi dideteksi dengan menggunakan pejantan dan langsung dikawinkan secara alami secara terus menerus sampai berahinya menghilang.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penggunaan preparat hormon progesteron baik yang import maupun hasil ekstraksi secara intra vaginal dapat menyebabkan 70% ternak kambing betina berahi. Untuk kontrol (P0): 90% ternak berahi; perlakuan hormon 45 mg/spons (P1): ternak yang berahi hanya 55%; sedangkan perlakuan dengan hormon 35 mg/spons, ternak yang berahi lebih banyak yaitu sebesar 70%. Pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata berahi terlihat sekitar 54,8 jam (36 – 84 jam) dengan lama berahi rata-rata 20,4 jam (12 – 39 jam). Timbulnya berahi (onset berahi) pada kambing betina terpanjang (84 jam) terjadi pada pemberian hormon  dengan konsentrasi sebanyak 35 mg/spons, sedangkan lama berahi terpanjang (39 jam) terjadi pada ternak kontrol. Hasil USG menunjukkan 82,6% ternak bunting dari jumlah ternak yang berahi dan dikawinkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah kambing yang berahi dari perlakuan penyerentak berahi asal nabati sebesar 62,5% dengan lama berahi 20,4 jam dan tingkat kebuntingan 82,6%.




Home | Hubungi Kami | Forum | Site Map | Tim Redakasi
(c) Copyright 2009 - 2014 Puslitbangnak
Jl. Raya Pajajaran Kav E59 Bogor 16151 Jawa Barat, Indonesia
Phone. +62 251 8322183, +62 251 8328383
e-Mail: medpub@litbang.deptan.go.id - puslitbangpeternakan@gmail.com

               





www.litbang.deptan.go.id